WAJO — Program revitalisasi Danau Tempe yang mulai dikerjakan sejak 2018 hingga kini belum tuntas. Pengerjaan yang semula direncanakan berlangsung sekitar lima tahun tersebut terhenti pada 2019.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wajo, A. Fakhrul Rijal B., ST., MM., menyebut program revitalisasi tersebut dalam rencana awal akan menghasilkan sekitar 36 pulau baru melalui material hasil pengerukan danau.
Namun, hingga pengerjaan dihentikan, baru sekitar tiga pulau yang terealisasi.
“Kalau tidak salah, dari rencana 36 pulau yang akan terbentuk melalui pengerukan, baru sekitar tiga pulau yang terealisasi. Sangat disayangkan kalau program sebesar ini tidak dilanjutkan,” ujar Fakhrul.
Menurutnya, apabila revitalisasi Danau Tempe dapat diselesaikan sesuai rencana, manfaatnya akan sangat besar, baik terhadap kondisi lingkungan danau maupun masyarakat yang berada di sekitarnya.
Fakhrul yang memiliki latar belakang pendidikan S1 Arsitektur, S2 Magister Manajemen, serta pernah menempuh pendidikan S2 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), menilai pengerukan Danau Tempe seharusnya tidak hanya dipandang sebagai upaya mengangkat sedimentasi.
Menurutnya, material hasil pengerukan dapat dimanfaatkan untuk membentuk dan menata pulau-pulau baru sebagai bagian dari pengembangan kawasan Danau Tempe secara terpadu.
“Kalau dilihat dari perspektif arsitektur dan perencanaan wilayah, pengerukan danau yang dilakukan secara terencana dapat memberikan banyak manfaat. Selain mengembalikan fungsi badan air, material hasil pengerukan dapat dimanfaatkan untuk membentuk dan menata pulau-pulau baru yang kemudian dapat dikembangkan sebagai bagian dari kawasan ekowisata,” jelasnya.
Ia mengatakan, apabila dirancang berdasarkan kajian teknis, lingkungan dan tata ruang yang matang, pulau-pulau tersebut berpotensi dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau, kawasan konservasi, habitat satwa dan ikan, hingga destinasi wisata berbasis lingkungan.
Selain itu, pengerukan yang dilakukan secara tepat juga dapat membantu mengurangi pendangkalan akibat sedimentasi, memperbaiki fungsi perairan serta menjaga keseimbangan ekosistem Danau Tempe.
Dampaknya diharapkan turut mendukung keberlangsungan aktivitas masyarakat yang selama ini menggantungkan kehidupan dari sumber daya Danau Tempe.
“Seandainya ini dirampungkan, manfaatnya akan luar biasa. Tetapi tentunya harus dilakukan berdasarkan kajian teknis, lingkungan dan tata ruang yang matang agar revitalisasi benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi Danau Tempe,” tuturnya.
Fakhrul berharap pemerintah kembali memberikan perhatian terhadap keberlanjutan program revitalisasi Danau Tempe. Menurutnya, program yang telah dimulai tersebut perlu dikaji kembali dan, jika memungkinkan, dilanjutkan secara bertahap dengan pendekatan yang lebih terpadu dan berkelanjutan.
“Danau Tempe bukan hanya persoalan air dan ikan, tetapi juga menyangkut lingkungan, tata ruang, ekonomi, sosial dan masa depan masyarakat. Karena itu, penataannya harus dipikirkan secara menyeluruh dan berkelanjutan,” pungkasnya.(anto)
