Populasi Ikan di Danau Tempe Menurun, DLH Wajo Soroti Lima Faktor

 


WAJO — Penurunan populasi ikan di Danau Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wajo.

Kepala DLH Kabupaten Wajo, Andi Fakhrul Rijal B., ST., MM., mengatakan, berkurangnya populasi ikan di Danau Tempe tidak dapat dilihat hanya dari satu faktor. Kondisi tersebut harus dikaji secara menyeluruh dengan melihat berbagai aspek yang memengaruhi keseimbangan ekosistem danau.

Menurutnya, sedikitnya terdapat lima faktor yang perlu menjadi perhatian dalam melihat kondisi populasi ikan di Danau Tempe.

Pertama, pendangkalan danau akibat sedimentasi. Pendangkalan menyebabkan perairan semakin dangkal dan dapat meningkatkan kekeruhan air. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas habitat ikan serta mengganggu lingkungan yang dibutuhkan untuk berkembang biak.

Kedua, masuknya bahan kimia dari aktivitas pertanian. Penggunaan herbisida, pestisida, dan pupuk kimia di kawasan pertanian berpotensi terbawa aliran permukaan menuju danau, terutama saat musim penghujan.

Selain bahan kimia, erosi dan pengikisan tanah di kawasan hulu juga dapat membawa sedimen serta berbagai material ke Danau Tempe. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas air dan kehidupan biota perairan, termasuk ikan kecil dan anakan ikan.

Ketiga, penangkapan ikan menggunakan setrum. Praktik penangkapan ikan dengan cara tersebut dapat menyebabkan kematian ikan dalam berbagai ukuran, termasuk ikan-ikan kecil. Jika dilakukan secara terus-menerus, kondisi ini dapat mengganggu proses regenerasi populasi ikan.

Keempat, meningkatnya keberadaan ikan sapu-sapu. Populasi ikan sapu-sapu yang semakin banyak juga perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan ekosistem Danau Tempe. Keberadaannya berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan perlu dikaji agar tidak berdampak terhadap keberlanjutan ikan lokal.

Kelima, keberadaan ikan patin. Populasi ikan patin juga dinilai perlu diperhatikan dalam menjaga keseimbangan ekosistem danau. Sebagai ikan omnivora, patin dapat memanfaatkan berbagai sumber makanan dan dalam kondisi tertentu dapat memangsa organisme atau ikan berukuran kecil.

Berkurangnya ikan di Danau Tempe tidak bisa dilihat hanya dari satu faktor. Kita harus melihat kondisi danau secara keseluruhan, mulai dari kualitas air, sedimentasi, aktivitas pertanian, cara penangkapan ikan, hingga perubahan komposisi jenis ikan yang hidup di dalam danau,” ujar Andi Fakhrul Rijal B.

Ia mengajak seluruh pihak, termasuk masyarakat sekitar danau, untuk bersama-sama menjaga kelestarian ekosistem Danau Tempe.

Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan mengurangi berbagai aktivitas yang berpotensi mencemari perairan serta menghentikan praktik penangkapan ikan yang dapat merusak regenerasi populasi.

Kalau kita ingin ikan di Danau Tempe tetap ada dan kembali melimpah, maka ekosistem danaunya harus kita jaga bersama. Menjaga danau berarti menjaga sumber kehidupan masyarakat Wajo,” tegasnya.

DLH Wajo berharap pengelolaan Danau Tempe dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, sehingga kelestarian ekosistem dan keberadaan sumber daya perikanan tetap terjaga untuk masyarakat dan generasi mendatang.(antho) 

Baca Juga
Redaksi

Lebih baru Lebih lama