iklan

DLH Wajo Perkuat Sinergi Sekretaris OPD, Gaungkan Gerakan PISOTA Menuju Adipura 2026



WAJO – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wajo, A. Fakhrul Rijal B, S.T., M.M., mengajak seluruh sekretaris Organisasi Perangkat Daerah (OPD) memperkuat sinergi dan menyatukan komitmen dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik, sekaligus mendukung terwujudnya Wajo Bersih, Sehat, dan Hijau.

Pertemuan tersebut menjadi momentum strategis untuk menyelaraskan langkah perangkat daerah dalam mendukung kebijakan nasional Indonesia Zero Sampah 2029, menyukseskan Gerakan Indonesia Asri, mengoptimalkan pengelolaan sampah, serta mempersiapkan Kabupaten Wajo menghadapi penilaian Adipura tahun 2026.

Dalam pembahasan tersebut, terdapat lima agenda utama yang menjadi perhatian bersama, yakni mendukung Indonesia Zero Sampah 2029 dan Gerakan Indonesia Asri, mewujudkan Wajo Bersih, Sehat, dan Hijau, mengimplementasikan Peraturan Daerah Kabupaten Wajo Nomor 8 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Sampah, mendukung pembenahan pengelolaan TPA Cempalagi, serta memperkuat persiapan menuju Adipura 2026.

Kepala DLH Wajo menekankan bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan pengangkutan dan pembersihan lingkungan. Diperlukan perubahan perilaku secara menyeluruh melalui pengurangan timbulan sampah, pemilahan, pengolahan sampah organik, serta pemanfaatan sampah anorganik sejak dari sumbernya.

Upaya tersebut harus melibatkan seluruh elemen, mulai dari rumah tangga, perkantoran, sekolah, pasar, tempat usaha, warung kopi, kafe, hotel, hingga berbagai fasilitas umum.

Gerakan PISOTA, Langkah Nyata dari Sumber Sampah

Untuk mendukung agenda tersebut, DLH Kabupaten Wajo menggaungkan Gerakan PISOTA: Pilah Sampahta, Olah Sampahta, Tanami Pekaranganta sebagai gerakan bersama yang mendorong pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan lembaga pendidikan mengambil peran nyata dalam pengelolaan sampah.

Melalui PISOTA, setiap rumah tangga, kantor, sekolah, dan tempat usaha diharapkan mulai membiasakan pemilahan serta pengolahan sampah secara konsisten. Sampah yang masih memiliki nilai manfaat tidak seharusnya langsung dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Dalam implementasinya, DLH Kabupaten Wajo merekomendasikan dua sarana sederhana yang dapat diterapkan sesuai kondisi masing-masing.

Pertama, biopori untuk sampah organik, khususnya sisa makanan dan sampah dapur. Penggunaan ember biopori atau model biopori lainnya diharapkan membantu pengolahan sampah organik agar dapat dimanfaatkan menjadi kompos atau bahan pembenah tanah sesuai metode pengolahan yang digunakan.

Kedua, karung waring untuk botol plastik. Setiap rumah, kantor, sekolah, dan tempat usaha didorong menyediakan wadah khusus agar botol plastik terpisah dari sampah lainnya, sehingga lebih mudah dikumpulkan, dimanfaatkan kembali, atau disalurkan untuk didaur ulang.

Kedua langkah tersebut diharapkan menjadi kebiasaan sederhana yang memberikan dampak nyata terhadap pengurangan sampah yang masuk ke TPA.

SURAT KAWAN BIOPORI: Satu Rumah Satu Karung Waring dan Biopori

Sebagai bagian dari Gerakan PISOTA, DLH Kabupaten Wajo juga mendorong Gerakan SURAT KAWAN BIOPORI, singkatan dari Satu Rumah Satu Karung Waring dan Biopori.

Gerakan ini mengajak setiap rumah tangga menyediakan sarana pengolahan sampah organik melalui biopori serta wadah khusus berupa karung waring untuk mengumpulkan botol plastik.

Kebiasaan tersebut diharapkan dimulai dari rumah masing-masing, kemudian diperluas ke lingkungan perkantoran, sekolah, tempat usaha, dan fasilitas umum. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi budaya hidup bersih dan bertanggung jawab.

Kepala DLH Kabupaten Wajo mengajak para sekretaris OPD dan seluruh jajaran perangkat daerah menjadi pelopor dalam penerapan gerakan tersebut, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.

“Mari kita belajar dan bergerak bersama melalui Gerakan PISOTA. Mulai dari diri sendiri, mulai dari rumah sendiri, dan mulai dari lingkungan kerja kita. Sampah harus dipilah dan diolah sejak dari sumbernya, bukan semuanya dibuang ke TPA,” ajaknya.

Kolaborasi Bersama Menuju Wajo Bersih dan Adipura 2026

Selain mendorong perubahan perilaku masyarakat, pembenahan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir juga menjadi bagian penting dalam upaya perbaikan pengelolaan TPA Cempalagi.

Pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, sehingga sampah yang dibuang semakin terkendali dan diutamakan berupa sampah residu.

Kepala DLH Wajo menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk OPD, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan, dunia usaha, lembaga pendidikan, serta masyarakat.

“Kebersihan bukan tanggung jawab DLH semata, tetapi tanggung jawab kita semua. Dengan kebersamaan dan tindakan nyata, kita optimistis dapat mewujudkan Wajo Bersih, Sehat, dan Hijau, mendukung Indonesia Zero Sampah 2029, memperbaiki pengelolaan TPA Cempalagi, serta mempersiapkan diri menuju Adipura 2026,” tegasnya.

Melalui penguatan sinergi antar-OPD dan penerapan Gerakan PISOTA serta SURAT KAWAN BIOPORI, DLH Kabupaten Wajo berharap pengelolaan sampah dapat menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan, dimulai dari lingkungan terkecil hingga seluruh wilayah Kabupaten Wajo.(rls)

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama
iklan